Helm standar untuk berbagai kegiatan olahraga air dengan ABS outer shell, aerodynamic ventilated shell design dan adjustable chain and back of head fitting, Helm ini selain dapat memberi rasa aman dengan meredam benturan juga memberikan kenyamanan saat beraktifitas olahraga air, baik olahraga air tenang atau deras.
Harga Rp. 250.000,-/buah
Tersedia dalam ukuran S,M,L
Lihat gambar selanjutnya .....

Tampak Belakang


Tampak Dalam


Pilihan Warna

Labels:


# Kelas 1 : Mudah, arus air tenang, dan tanpa rintangan.
# Kelas 2 : Tingkat kesulitan medium, tapi arus masih tergolong tenang.
# Kelas 3 : Ada sejumlah jeram yang tinggi dan tidak beraturan, batu-batu penghalang, arus balik, tapi arus pendek. Membutuhkan teknik manuver serta operator yang baik.
# Kelas 4 : Arus air panjang, gelombang tinggi dan tidak beraturan, batuan penghalang yang berbahaya, arus balik memutar, tingkat kesulitan yang cocok bagi yang ingin berlatih, tapi membutuhkan teknik manuver yang tepat dan kekuatan tinggi.
# Kelas 5 : Jalur dengan kesulitan tinggi dan panjang, di antara satu jarum dengan yang lain hampir tanpa jeda. Dibutuhkan pelaku yang memang mahir.
# Kelas 6 : Diklasifikasikan yang tidak bisa dilalui dengan cara rafting, contoh berupa air terjun yang terjal.

Sumber : Noars Rafting

Labels: ,

Berbagai Jenis Arung Jeram

0 Comments Posted by Catatan Si Boy at 01:00


Edy atau edies adalah kondisi air yang tenang di pinggir sungai. Edy terbentuk karena adanya batuan, belokan dipinggir sungai ataupun pada ujung hilir delta sungai atau ada batuan besar di pinggir sungai. Adanya batuan tersebut mencegah arus besar melewati jalurnya sehingga air tenang. Penjelasan mudahnya jika biasanya arus mengalir dari hulu ke hilir maka arus edy mengalir dengan arah yang berkebalikan yaitu dari hilir ke hulu. Tidak hanya itu, pada ujung hulu, aliran ini tertahan oleh batuan besar/ halangan lain misalnya pondasi kaki jembatan di tengah sungai atau bibir sungai itu sendiri (pada belokan sungai).

* Edy banyak dimanfaatkan untuk istirahat, parkir perahu, karena bentuk alirannya yang berlawanan arah dan adanya penahan pada ujung aliran membuat perahu tidak terus hanyut ke hilir.

* Drop, terbentuk karena terjadi penurunan dasar sungai seperti bentuk tangga/undak menurun pada dasar sungai tetapi tidak terlalu besar. Jika beda ketinggiannya terlalu besar (seperti air terjun kecil maupun besar) disebut hidrolik, dan ini bisa berbahaya karena ada tekanan besar ke dasar sungai sebelum aliran dilemparkan lagi ke permukaan terus ke hilir. Aliran ini dapat membuat perahu tersedot ke dalam air.

* Double drop, terbentuk karena arus sungai melewati atau melampaui batuan besar. Disebut double drop karena bentuk arus yang menyerupai terjunan besar dan berurutan. Double drop dapat membuat perahu kehilangan keseimbangan. Jika perahu tanpa kayuhan melalui double drop yang besar, perahu bisa tertarik terus (tertahan) dan tidak bisa keluar. Untuk dapat melewati double drop dengan aman dan nyaman, para rafter harus mengikuti perintah skipper atau pemandu sungai.

* Standing wave, arus yang bentuknya menyerupai gelombang laut. Meski tidak besar dan tinggi namun dapat memaksa perahu melompat-lompat dan mengayun ke depan dan ke belakang. Arus semacam ini akan lebih seru jika dilalui dari depan, namun demikian banyak harus dihindari bila datangnya dari arah samping, karena besar kemungkinan menyebabkan perahu terbalik. Arus semacam ini tetaplah liar karena jarak dan irama gelombang yang tak terukur. Saat perahu masuk jeram sempit, arus yang dibentuk oleh benturan-benturan dinding sungai atau batuan besar di kanan kiri jalur, akan sangat mengasyikkan meski harus tetap diwspadai, contohnya Jeram Budil Progo Bawah dan Jeram Godbless Pekalen Bawah. Standing wave yang rata dan panjang dapat dinikmati di Sungai Serayu dan Progo Bawah saat musim hujan tiba. Jika perahu jatuh di kawasan standing wave, yang paling penting untuk diperhatikan adalah tidak panik. Prinsip yang tetap harus dipegang adalah membelakangi arus dan kaki dinamis.

* Turbulence, merupakan gelombang berpusar di bawah permukaan air yang biasanya terbentuk karena kedalaman sungai yang dihiasi batuan besar atau jatuhnya air dari ketinggian sebelumnya, misal air terjun atau air jatuh dari dam. Pusaran air akan menyedot perahu jika perahu tidak mempunyai daya dorong ke depan. Oleh karenanya, “dayung kuat” adalah perintah skipper untuk menghindari jebakan turbulensi di bawah jeram. Jebakan turbulensi cukup berbahaya jika para rafter terjatuh di dalamnya, karena biasanya badan tidak bisa keluar dari jebakan ini. Jeram akan terus menyedot badan perahu, sehingga sebaiknya para rafter justru harus mengikuti arus bawah dan jangan dilawan. Kemudian buat formasi bola, yaitu tekuk tubuh dalam-dalam, setiap orang saling memegang dan merangkul sehingga membentuk bola hingga perahu terdesak ke dasar sungai. Begitu mendapat pijakan, langsung jejakkan perahu ke atas sekuat mungkin agar menuju permukaan.

* Undercut, merupakan arus memotong yang sangat ditakuti di setiap kegiatan arung jeram, meski para rafter tidak selalu menemuinya di semua sungai. Banyak yang berpendapat bahwa apapun yang masuk ke dalam arus undercut tidak akan bisa keluar, termasuk manusia. Di permukaan undercut terlihat seperti pusaran ringan, namun sebenarnya arus ini berputar cukup keras di bagian dalam. Di lapangan, bentuk spesifik undercut sulit untuk diprediksi kecuali ketika sungai surut atau kering. Selain turbulensi arus yang kuat, faktor lain yang membuat perahu sulit keluar dari undercut adalah adanya halangan berupa akar pohon (jika letaknya di pinggir sungai), tonjolan-tonjolan batu tak beraturan, dan entrapment (jebakan). Bentuk undercur yang dalam dan panjang sering disebut saringan karena benda apa pun yang masuk ke dalamnya, sekalipun bisa keluar, akan keluar dalam bentuk serpihan-serpihan seperti habis dicincang. Namun bila terjebak di arus undercut yang tidak terlalu dalam, para rafter bisa keluar dengan menggunakan teknik bola atau renang hole.

Sumber : Noars Rafting

Labels: ,

Tips Ber Arung Jeram

0 Comments Posted by Catatan Si Boy at 00:40


Meski berarung jeram menyenangkan dan menyehatkan, namun ada beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak boleh melakukannya, antara lain :

* Baru sembuh dari sakit atau baru dirawat di rumah sakit.
* Cedera pada tangan dan bahu.
* Penderita epilepsi yang bisa kambuh saat stres atau panik.
* Asma tipe exercise induced (asma yang timbul saat olah raga).
* Memiliki riwayat penyakit yang membahayakan, misalnya hipertensi berat, penyakit jantung.

Sebelum memulai pengarungan, para rafter harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Ada beberapa tips yang bisa diterapkan, antara lain :

beberapa tips yang bisa diterapkan, antara lain :

* Meski tidak ada pakaian khusus untuk berarung jeram, namun jangan menggunakan pakaian yang mudah menyerap air, seperti jins, karena akan memberatkan jika terkena air. Pilih pakaian dengan bahan yang ringan (seperti lycra, neoprene dan parasut), tidak menyerap air, dan tidak menyulitkan gerakan di air.
* Sepatu juga tidak perlu jenis khusus, namun sebaiknya gunakan sandal gunung atau sepatu kets yang ringan dan tidak licin.
* Makan dulu minimal dua jam sebelumnya. Jangan terlalu banyak karena bisa muntah jika sering mengalami goncangan di perahu. Makanlah makanan yang mengandung cukup kalori supaya bertenaga.
* Sebelum berarung jeram, lakukan peregangan otot bahu dan lengan untuk menghindari cedera otot atau kram selama 30 menit.
* Pasanglah pengait jika Anda memakai kacamata.
* Bila memiliki rambut panjang, ikatlah dengan baik, jangan biarakan tergerai.
* Pakailah sunblock untuk menghindari sengatan matahari dengan SPF yang sesuai dengan kondisi kulit. Oleskan secara merata pada bagian tubuh yang sekiranya akan terpapar sinar matahari, kecuali dahi dan lipatan lutut.
* Tinggalkan barang berharga seperti, perhiasan, jam tangan, kunci mobil, HP, dll. dalam tempat yang aman.
* Banyak minum meski tidak haus karena tubuh akan banyak berkeringat.
* Bawa snack untuk menggantikan kalori yang terbuang dan obat-obatan, terutama obat untuk cedera, misalnya bidai, obat luka, obat pelemas otot. Semua barang tersebut harus terbungkus kantong plastik sebelum memasukkannya ke dalam drybag. Pastikan membawa drybag yang kondisinya baik dan drybag terikat pada perahu selama pengarungan.
* Jangan panik apapun yang terjadi, karena akan menyusahkan tim.
* Pahami setiap petunjuk dengan benar dan ikuti petunjuk skipper.

Selain persiapan yang matang, faktor lain yang menentukan asyik tidaknya pengarungan adalah perusahaan yang menyediakan wisata ini (kecuali jika Anda berarung jeram bersama dengan anggota kelompok Anda sendiri). Berikut adalah tips yang bisa Anda perhatikan ketika memilih perusahaan penyedia outbound ini :

* Perusahaan pengelola olahraga arung jeram dapat dikategorikan baik bila ia memiliki skipper yang handal pada sungai yang ingin dijelajahinya. Tak semua orang bisa menjadi memegang kendali di sungai yang berbeda-beda.
* Sebuah perusahaan yang baik akan menyediakan beberapa buah boat. Akan lebih baik lagi bila Anda menjelajahi sungai dengan boat yang berjumlah lebih dari satu. Anda akan lebih mudah "ditolong” bila terjadi sesuatu pada boat Anda.
* Selain perahu, peralatan lainnya haruslah yang masih layak pakai. Vest yang masih baik juga sama pentingnya dengan boat yang baik. Vest ini akan sangat berguna untuk keselamatan Anda jika Anda terlempar dari perahu. Vest ini tak hanya membuat Anda mengapung tapi juga cukup kuat untuk ditarik. Pilihlah vest yang pas di tubuh, kuat di bagian pundaknya dan memiliki tali pengait di antara pangkal paha.

Sumber : Noars Rafting

Labels:


Mendayung merupakan hal yang mendasar yang harus bisa kita lakukan. karena dalam pengarungan bila kita dapat mendayung dengan baik dan benar maka laju dan arah perahu akan dapat terkendali dengan baik. berikut adalah teknik dasar dalam mendayung.
* Dayung Maju (Forward Stroke)

Berfungsi untuk menggerakkan perahu ke depan. Caranya : dimulai dengan mendorong bilah dayung ke muka dengan tangan sebelah luar, kemudian masukkan dayung alam ke dalam air, dilanjutkan dengan mempertahankan bilah dayung pada sudut yang benar hingga mendekat ke perahu dan berhenti setelah sejajar dengan tubuh, keluarkan bilah dayung kemudian putar sejajar dengan permukaaan air, ulangi kembali ke posisi semula.Dayung mundur (Backward Stroke) kegunaannya untuk menurunkan kecepatan perahu atau menggerakkan perahu ke belakang. Caranya : merupakan kebalikan dari dayung maju. Celupkan bilah dayung ke dalam air hingga jauh ke belakang tubuh kemudian dorong ke depan sambil menarik pegangan dan gerakan ini berakhir ketika dayung berada pada posisi awal dayung maju.

* Dayung Tarik (Draw Stroke)

Dayung tarik sering dipakai oleh pemandu arung jeram untuk menghindari tabrakan antara bagian belakang perahu dengan batu atau rintangan dengan menggeser perahu mendekati posisi yang diinginkan. Caranya menancapkan dayungjauh ke samping dan menariknya ke arah perahu.

* Dayung Tolak (Pry Stroke)

Gunanya untuk membantu melengkapi dayung tarik untuk mengendalikan perahu ke posisi yang diinginkan. Caranya : kebalikan dari dayung tarik, yaitu memasukkan dayung ke dalam air dari dekat perahu dan menolaknya jauh ke samping perahu.

* Dayung Pancung (Cross-Brow Draw)

Dayungan yang biasa digunakan oleh para pendayung depan apabila ingin menggeser perahu ke samping. Caranya : pendayung depan melakukan dayung tarik dari sisi depan perahu memotong moncong perahu.

* ”C” Stroke

Gunanya untuk membelokkan perahu dengan cepat. Caranya dayung digerakkan membentuk huruf ”C” baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan dan diikuti dengan gerakan badan. Dayungan ini sangat penting untuk dikuasai oleh pemandu arung jeram karena dayungan ini sangat efektif untuk membelokkan perahu.

Labels: ,


Pengarungan sungai berjeram memerlukan ketrampilan melalui proses latihan dan penambahan jam terbang yang simultan. Kemampuan membaca sifat sungai tidak hanya tergantung pada kemampuan intelektual, tetapi juga pada sering melakukan pengarungan itu sendiri. Kemampuan mengendalikan perahu memerlukan suatu pemahaman tentang segala teknik mendayung yang hanya dapat dicapai dengan banyak latihan. Jadi pada dasarnya merupakan gabungan antara pengetahuan teoritis dan jam terbang. Untuk melatih kemampuan berarung jeram tidak harus langsung pada sungai yang berjeram, tetapi dimulai dari sungai yang tenang kemudian berangsur-angsur meningkat pada sungai yang berjeram mudah hingga sulit.

Hal-hal yang perlu diketahui untuk melakukan pengarungan sungai adalah :

TEKNIK MENDAYUNG

Teknik Oar

Posisi duduk pendayung oar berada ditengah perahu yang dilengkapi dengan rangka untuk tempat duduk dan pegangan dayung.Dalam teknik mendayung dengan oar hanya dikenal dua macam kayuhan yaitu dayung maju dan dayung mundur. Jika menginginkan perahu bergerak kedepan maka digunakan dayung maju sedangkan dayung mundur untuk menghentikan perahu yang sedang bergerak maju atau memang menginginkan perahu bergerak mundur.Jika ingin membelokkan perahu ke kanan maka tangan kiri mendayung maju dan tangan kanan mendayung mundur,dan sebaliknya jika ingin membelok kekiri.

Teknik Paddle

Berarung jeram dengan menggunakan teknik paddle merupakan kerja tim, karena setiap awak perahu dituntut mempunyai pengertian dan peran yang sama dalam mengendalian laju perahu. Sebuah tim yang sudah berpengalaman dapat mengatasi hampir semua tingkat kesulitan dalam arung jeram.Teknik paddle ini jadi lebih memungkinkan untuk pengarungan sungai yang terlalu sempit dan berbatu bagi teknik oar, dan jika mengalami kondisi darurat bisa dipecahkan bersama.

Cara duduk ada dua. Yang pertama posisi duduk seperti menunggang kuda (cowboy style) kedua kaki pendayung menjepit lingkaran tabung perahu. Cara kedua, ( nantahala style ), seperti seorang perempuan membonceng sepeda motor, kedua kaki masuk kebagian dalam perahu. Untuk mendayung agar perahu bergerak, tetapi jika memang dibutuhkan kecepatan tambahan maka gagang dayung dimasukkan kedalam air dan dikayuh dengan sekuat tenaga,seluruh otot perut dan lengan dikerahkan untuk mendapatkan tenaga yang optimal dan efektif.

Gerakan dan arah dayung yang perlu dipahami oleh awak perahu meliputi :

Dayung maju (forward stoke )

Dayung balik/mundur (back stroke)

Dayung tarik (draw stroke). Dilakukan untuk menggeser perahu mendekati posisi yang diinginkan dengan cara menancapkan dayung jauh ke samping dan menariknya ke arah perahu

Dayung tolak /menyamping (pry stroke). Merupakan kebalikan dari dayung tarik tetapi tujuannya membantu melengkapi dayung tarik untuk mengendalikan perahu ke posisi yang diinginkan. Juga sering digunakan oleh kapten perahu yang duduk di belakang untuk membelokkan arah perahu.

Dayung pancung (cross-bow draw). Dayungan yang biasa dilakukan oleh para pendayung depan apabila ingin menggeser perahu ke samping. Dayungan ini dilakukan oleh pendayung depan dengan melakukan dayung tarik dari sisi depan memotong moncong perahu.

ABA-ABA KAPTEN/SKIPPER

Beberapa komando yang lazim digunakan :

Maju => semua mendayung maju

Mundur => semua mendayung mundur

Stop => semua berhenti mendayung

Kanan maju => semua yang di lambung kanan mendayung maju

Kanan mundur => semua yang di lambung kanan mendayung mundur

Kiri maju => semua yang di lambung kiri mendayung maju

Kiri mundur => semua yang di lambung kiri mendayung mundur

MANUVER

Manuver digunakan apabila perahu akan melewati suatu kelokan sungai atau menghindari rintangan atau hambatan. Ferrying merupakan teknik dasar dalam melakukan manuver. Adapun cara melakukan ferry tergantung pada teknik yang digunakan disamping kondisi hambatan yang akan dilalui. Dalam melakukan ferry dikenal dua macam teknik, yaitu up stream ferry dandown stream ferry (back ferry danForward ferry )

Back ferry dimulai dengan haluan perahu menghadap ke arah hilir. Dari posisi ini mulailah mendayung mundur. Kemudian ferry dilakukan dari sisi sebelah kiri dengan memutar haluan 30 derajat- 45 derajat ke kanan. Jika anda melakukan dayung mundur sambi menjaga sudut perahu, perahu akan bergerak ke kiri untuk mencapai sisi sebelah kanan arahkan haluan atau moncong perahu kearah sisi sebelah kiri dengan mendayung mundur.

Forward ferry, perbedaannya dari back ferry hanya arah dari haluan perahu. Dalam forward ferry arahkan haluan perahu ke arah hulu (upstream) dan mulailah mendayung maju melawan arus. Hal yang harus dilakukan dalam melakukan ferry, dengan memperhatikan kecepatan arus, kekuatan dayungan, dan disesuaikan dengan sudut ferry. Semakin cepat arus maka sudut ferry semakin kecil dan kekuatan dayungan yang diperlukan semakin besar. Untuk melakukan ferry dengan baik maka diperlukan latihan, tertuama dalam menyesuaikan besar sudut ferry, kekuatan dayungan dan kecepatan arus.

Teknik lain dalam manuver adalah membelok (turn) dan berputar (pivot). Untuk berbelok yang harus dilakukan adalah dengan menguatkan dayungan disalah satu sisi perahu bila ingin berbelok ke sisi yang berlawanan. Atau dengan memperlambat laju perahu pada sisi yang akan dituju.

Bila perahu ingin berbelok ke kanan, maka para pendayung di sebelah kiri harus melakukan dayung maju dengan tenaga yang bertambah dan disisi yang lain melakukan dayung mundur, dengan demikian perahu akan berbelok ke kanan. Dalam situasi yang mendadak kadang-kadang kita tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan gerakan berbelok atau ferry dalam menghadapi batu yang besar atau hole yang besar. Dalam situasi tersebut dapat menyebabkan perahu terbalik atau wrap karena antisipasi yang terlambat.

Teknik mandayung yang paling cepat dan efisien dalam menghadapi situasi tersebut adalah dengan menggeser perahu hingga perahu dapat bergerak lateral kesamping dengan cepat. Teknik dayungan yang dilakukan untuk menggeser perahu adalah dengan melakukan dayung tarik (draw stroke) , dayung pancung (cros-bow draw) dan dayung tolak (pry stroke). Apabila ingin menggeser perahu ke kanan pendayung sebelah kanan dayung tarik, pendayung kiri depan dayung pancung, kiri belakang dayung tolak.

Teknik manuver lain yang tidak kalah pentingnya dalam berarung jeram adalah teknik keluar dan masuk eddies. Dua hal yang harus diperhatikan ketika memasuki eddies yaitu kecepatan dari perahu dan sudut masuk. Keduanya harus diperhitungkan untuk mencapai satu tujuan yaitu melewati garis eddies (eddies line) dengan cepat.

Untuk keluar dari eddies ada tiga cara yang dapat dilakukan,

dengan ferrying memotong garis eddies

dengan melakukan peel out yaitu sebuah manuver dengan cara memutar perahu ke hilir begitu keluar dari eddies.

dengan membiarkan perahu ,keluar dengan sendirinya dari eddies dengan mendayung ke arah hilir.

PENGINTAIAN (SCOUTING)

Melakukan pengintaian tehadap jeram yang belum dikenal merupakan suatu tindakan yang bijaksana, khususnya bagi tingkat pemula. Pengintaian sejumlah deretan jeram,meliputi proses pengamatan suatu jeram yang dilakukan pada tepian sungai dari beberapa sudut pandang. Menganalisa apakah tingkat kesulitan jeram sesuai dengan kemampuan awak perahu, melihat atau mencari jalur yang paling aman,menganalisa kemungkinan terjadi trouble.

Memformulasikan rencana yang akan dilakukan, meliputi jalur yang akan dilalui, jalur cadangan apabila ada trouble, merencanakan teknik/manuver yang akan dilakukan, perlu tidaknya mempersiapkan tim rescue di sisi sungai.

Melaksanakan rencana.

LINING

Jika setelah pengintaian jeram disimpulkan tidak ada lintasan yang aman untuk dilalui, dan karenanya diputuskan membawa perahu lewat tepian sungai yang aman. Cara yang paling mudah adalah dengan “menuntun” perahu anda dengan menggunakan tali. Tehnik ini disebut Lining.

PORTAGING

Jika lining juga tidak dapat dilakukan lagi untuk menghindari halangan yang ada di depan, dan harus mengangkat perahu menyusuri tepian sungai (darat). Teknik ini disebut Portaging.

RIVER RUNNING SYSTEM

Bila pengarungan dilakukan dengan lebih dari satu perahu, formasi sebaiknya dilakukan dengan menempatkan orang-orang yang berpengalaman di depan dan di belakang, mengapit peserta yang kurang berpengalaman. Dengan formasi ini perahu leader tidak pernah dilewati, dan perahu penyapu tidak akan pernah mendahului. Masing - masing beriringan satu-satu ke belakang. Gerak maju dibuat bertahap, leader terlebih dahulu memasuki jeram jeram yang cukup berbahaya, kemudian menunggu di Eddy yang terdapat dibawahnya. Jika semua aman, leader maju kembali.

Dengan cara ini semua perahu dapat terawasi, dan jika terjadi masalah atau kecelakaan, semuanya ada di tempat dan siap menolong. Jarak yang aman antara satu perahu dengan lainnya berbeda - beda, tergantung pada situasi yang ada, bisa jauh dimana satu sama lain masih bisa melihat jelas. Hal ini menguntungkan karena perahu yang berada di belakang dapat melihat bagaimana perahu didepannya mengatasi jeram dalam jarak yang relatif jauh. Jika mereka yang didepan mengalami kesulitan, maka perahu yang dibelakang masih memiliki jarak yang cukup baik untuk melakukan pendaratan mendadak (bisa segera melakukan pertolongan atau pengintaian medan).

Tapi, di medan yang sulit ketika dibutuhkan serangkaian manuver serius dan ruang gerak yang cukup bagi sebuah perahu, tidak jarang jarak tersebut tidak dapat dipertahankan. Diperlukan jarak yang sedikit lebih jauh lagi, agar tidak terjadi tabrakan antara perahu yang sedang berusaha melepaskan diri dari suatu rintangan dengan perahu yang menyusul kemudian (Bisa jadi dua duanya atau lebih, terjebak bersama!).

Setelah melewati jeram yang cukup berbahaya, leader menunggu untuk menunjukkan lintasan terbaik kepada mereka yang segera akan memasuki jeram tersebut. Dan jika terjadi sesuatu, leader segera memberikan pertolongan. Dalam hal pengarungan ini dipergunakan beberapa signal.

Signal berhenti dilakukan dengan mengangkat dayung atau kedua belah tangan mendatar dan sejajar dengan pundak, kemudian menggerakkannya ke atas dan ke bawah.

Tolong (darurat) dilakukan dengan melambaikan sebuah dayung, helm atau live-vest (life jacket). Diatas kepala dengan gerakan melingkar. Atau dengan meniupkan peluit panjang sebanyak 3 kali.

Ă„man (Okay) dilakukan dengan mengangkat dayung tegak lurus atau tangan tinggi diatas kepala.

Ikuti arah ini dilakukan dengan mengangkat dayung atau tangan keatas dengan posisi miring 45 derajat (diukur dengan bentangan tangan vertikal ke horisontal). Dayung atau tangan tersebut di atas diarahkan kelintasan yang dimaksudkan.

Selama perjalanan perhatikan kebugaran fisik dan psikologis tim. Lebih baik berhenti lebih awal dan beristirahat daripada melanjutkan perjalanan dengan kondisi tim yang keletihan. Karena keletihan fisik dan psikis dapat menimbulkan masalah.

Labels: ,


Anas Ridwan, PT Boogie Advindo:
Bisnis Sukses, Hobi Jalan Terus
Banyak kisah sukses mereka yang mengawinkan hobi dan bisnis. Salah satunya, Anas Ridwan. Ia sukses di bisnis dan tetap melanjutkan kegemarannya bertualang di alam bebas. Lihat saja gaya anak gunungnya berikut Land Rover tahun 1960-an yang menjadi tongkrongan resminya. Padahal, lelaki berusia 34 tahun ini pemilik perusahaan PT Boogie Advindo (BA), produsen perlengkapan outdoor merek Boogie -- merek yang tak asing di telinga pehobi kegiatan outdoor.
Kelengkapan dan kualitas Boogie tidak kalah dari produk impor. Harap maklum, sebagian besar bahan baku produk ini memang masih impor. Boogie Advindo memproduksi sandal, tas dan ransel, aksesori, celana dan kemeja lapangan, perahu karet, pelampung, drybag, sepatu dan kantong tidur. Semuanya untuk kegiatan penjelajahan alam. Hasil riset menunjukkan, Boogie menempati urutan ketiga untuk produk kegiatan outdoor di pasar setelah merek Eiger dan The North Face.
Usaha Anas berawal dari hobinya berkelana di alam bebas. Usianya masih 13 tahun ketika ia jatuh cinta pada alam bebas. Selanjutnya, ia bergabung dengan Wanadri, kelompok pencinta lingkungan termasyhur di Bandung. Saat diwawancara SWA, Anas mengaku baru saja pulang dari Bandung mengikuti pelantikan anggota baru Wanadri.
Bagi Anas, bisnis dan hobi bisa saling mengisi. Melalui hobi, ia bisa bekerja dan bahkan memperoleh keuntungan. Sebaliknya, ketika merasa jenuh dan capek, ia dapat mengisi waktu dengan bertualang. "Bagi saya, bisnis ini lebih pada sisi nilai tambah suatu produk, bukan semata-mata uang," ujarnya. Ia menyadari betul, dirinya tidak punya bakat dagang. "Motivasi saya sebenarnya adalah punya aktivitas yang menghasilkan. Juga, ingin membuktikan anak gunung pun bisa berhasil," tegasnya.
Pikiran untuk berbisnis mulai muncul ketika berlangsung kompetisi terjun Boogie (terjun payung) di Pantai Kuta, Bali, pada 1990. Di ajang kelas dunia ini, Anas melihat para penerjun payung dunia memakai sandal sport merek Teva. Desainnya yang menarik menggugah keinginannya membuat sandal serupa. Maka, bermodalkan uang saku Rp 100 ribu, ia meminta seorang tukang sol keliling membuatkannya sandal serupa Teva. "Pokoknya, berapapun biayanya," jawab Anas ketika si tukang sol mengemukakan biaya pembuatannya. Padahal, uang di kantongnya hanya Rp 100 ribu.
Sejak itu, Anas mempekerjakan seorang tukang sol keliling untuk memproduksi tiga pasang sandal gunung setiap hari. Sandal ini kemudian dijajakan di kalangan terbatas seharga Rp 17.500-22.500/pasang. Tidak sulit baginya menjual produknya sebab modelnya memang bagus. Namanya juga jiplakan. Alhasil, melalui distribusi teman-teman sesama pecinta alam, sandal kreasi Anas selalu laku terjual. Empat bulan kemudian, ia mencoba meningkatkan kapasitas produksi dengan mempekerjakan lima tukang sol. Produksinya pun meningkat menjadi sekitar 15 pasang/hari. Begitu seterusnya, selama dua tahun Anas memfokuskan produksinya pada sandal gunung -- demikian kalangan pencinta lingkungan menyebut produk Anas -- hingga tukang solnya mencapai 15 orang dengan produksi 50 pasang/bulan pada tahun kedua. Harga pun semakin meningkat hingga Rp 45.000/pasang. Dari harga, Anas mengambil keuntungan 20% per pasang.
Di tahun ke-10 usahanya, total produksi sandal Boogie mencapai 5 ribu pasang/bulan. Tentu saja, tak semua pekerjaan dikerjakan sendiri tetapi juga lewat kemitraan dengan beberapa perajin sandal yang mengerjakan sekitar 60% dari total produksi. Mitra yang dimaksud adalah 7 perajin -- satu perajin terdiri atas dua pekerja.
Lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan, 1992 ini mengaku sering menghadapi kendala dalam menjalankan usaha. Terutama, dalam hal pembiayaan. Pasalnya, kalangan perbankan di Tanah Air masih berorientasi komersial, seperti harus ada jaminan sertifikat dan sejenisnya dan bukan pada prospek usaha. Anas mengaku perusahaannya sering diabaikan oleh pihak bank. Selain itu, kebijakan Pemerintah dalam pembinaan industri kecil dinilai Anas hanya berada pada tataran permukaan. "Sering kali tidak nyambung. Mereka tak menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Jadi, asal jalan saja," ujarnya mengeluh.
Dikecewakan bank, Anas tidak putus asa. Pada tahun ketiga usia perusahaannya, ia mengembangkan produknya dengan memproduksi tas ransel, drybag, dompet, sepatu tracking, pelampung, tenda dan berbagai aksesori kegiatan pecinta alam. Tahun 1996, ia berani memproduksi perahu karet. Padahal, jarang ada perusahaan yang mampu memproduksi perahu karet seperti itu. Bahkan, saking langkanya, ketersediaan perahu karet pada olahraga arung jeram sangat terbatas. Untuk memproduksi perahu karet, lelaki kelahiran Bogor ini rela terbang ke Taiwan untuk menimba ilmu. Namun, tak ada kesempatan mengembangkannya, sehingga ia melirik perusahaan sepatu yang membuat perahu penyelamat dan arung jeram, PT Heejo Indo. Anas kemudian menjadi penyalur perahu arung jeram perusahaan itu.
Impian membuat perahu karet akhirnya kesampaian atas bantuan seorang karyawan Heejo Indo dan modal Rp 5 juta. Namun, lagi-lagi cobaan datang sebab teman-temannya ragu menggunakan perahu buatannya. Sebaliknya, seorang warga negara Australia, James Casey -- karyawan perusahaan pertambangan Scorpion di Kalimantan -- membeli tiga perahu karet buatannya berikut perlengkapannya.
Hampir bersamaan, Heejo Indo bangkrut. Seluruh peralatan perusahaan ini dibeli Anas dan beberapa karyawannya direkrut ke Boogie Advindo. Untuk produksi, Anas mengeluarkan dana Rp 25 juta buat membangun ruang oven yang mutlak diperlukan dalam membuat perahu karet. Hanya dalam tiga tahun, Boogie Advindo berhasil memproduksi 90 perahu karet, dan terjual 20-30 unit/tahun seharga US$ 1.000/unit untuk jenis Rahong dan US$ 1.100 untuk Maskot. Keuntungan besar mulai tampak di depan mata. Pesanan dari Jawa, Bali, Aceh, Toraja bahkan Malaysia mulai berdatangan. Hebatnya, ia mampu menyelesaikan order-order ini hanya dalam lima hari meskipun harus menjahitnya sendiri.
Namun, kontributor terbesar pendapatan Boogie Advindo tetap berasal dari sandal gunung (40%), diikuti tas (40%), dan 20% dari jenis produk lain seperti aksesori, tenda, pelampung dan perahu karet. Untuk tas, prestasi Boogie terbilang bagus dengan menguasai 20% pangsa pasar kategori perlengkapan outdoor. Sementara itu, 60% dari total produksinya terjual ke wilayah Jawa dan sisanya dipasarkan di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Untuk ekspor, meskipun bersifat insidental, pasar terbesar Boogie adalah Malaysia, Singapura, Jepang dan Australia.
Kini, Anas berencana membuka gerai di beberapa daerah lainnya selain gerai yang telah ada di beberapa kota besar di Indonesia. Di dalam negeri, Boogie Advindo menggunakan sistem rekanan dalam membuka gerainya. Pasar ekspor ternyata menjadi perhatian khusus Anas. Targetnya, beberapa gerai akan dibuka di negara-negara ASEAN paling lambat tahun 2003. Untuk merealisasi rencana itu, beberapa langkah telah dilakukan. Misalnya, meningkatkan kualitas SDM dengan mengirim beberapa karyawan mengikuti kursus manajemen di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Manajemen, Menteng, Jakarta. Untuk ini, manajemen Boogie Advindo mengeluarkan dana sebesar Rp 20 juta/tahun.
Boogie Advindo juga telah membuat situs web www.boogieadvindo.com agar produk Boogie lebih dikenal luas hingga ke luar negeri. Gayung bersambut, sebab banyak permintaan datang dari Jepang dan Australia setelah membaca situs ini. Untuk meraih pasar baru, perusahaan ini menawarkan keanggotaan klub Boogie Advindo kepada kalangan pecinta alam. Dengan menjadi anggota, yang bersangkutan akan mendapat diskon harga khusus untuk produk-produk Boogie.
Menurut Anas, hal pertama yang dilakukannya adalah meningkatkan kualitas produk. "Boogie is quality," tegasnya. Kedua, menjual langsung melalui mobil Land Rover Merah (tahun 1970-an) yang bertuliskan "Cepat & Andal Melayani Pelanggan Camp", baik di Senayan maupun pada acara-acara yang berhubungan dengan kegiatan pecinta alam. Kemudian, meningkatkan frekuensi keikutsertaan mereka sebagai sponsor dalam berbagai kegiatan. Terakhir, membantu konsultasi, pelatihan dan informasi seputar kegiatan pecinta alam, khususnya arung jeram.
Satu hal yang sangat diyakini awak Boogie Advindo adalah produk-produk mereka bukanlah produk trendi, penekanannya lebih pada fungsi dan kualitas. Buktinya, walaupun krisis melanda Tanah Air pertengahan 1997, bisnis Boogie tidak terpengaruh sama sekali. Sebaliknya malah meraih untung. "Bagi kami, untung besar nomor sekian. Yang penting, kesinambungan usaha," jelas Anas. Sikapnya yang cenderung hati-hati dan sederhana, ditularkan kepada sekitar 70 karyawannya. Tanpa gembar-gembor, kini ia tengah menawarkan program pembangunan perumahan karyawan, yang berlokasi di dekat kantor Boogie Advindo di Jalan Talang Raya, Bogor.
Anas mengakui, pertumbuhan perusahaannya yang demikian cepat juga akibat konflik yang terjadi di tubuh Alpina, produsen produk serupa. Redupnya sinar Alpina membuka kesempatan bagi pemain lain, termasuk Boogie, untuk masuk pasar. Tak heran jika kemudian banyak pemain baru yang muncul memperebutkan pasar yang ditinggalkan Alpina. Maklumlah, Alpina pernah merajai pasar nasional untuk produk sejenis.
Guna menerobos pasar yang lebih besar, manajemen Boogie Advindo mengupayakan berbagai strategi, termasuk melakukan kegiatan below the line seperti mensponsori kegiatan pecinta alam. Salah satunya, menjadi sponsor atlet International Kayak Festival di Asahan, 2002. Boogie Advindo kini juga sedang membina tiga atlet pencinta alam terbaik nasional. Pertengahan tahun ini, Boogie Advindo mengembangkan usaha dengan membuka BoomAdventure di daerah aliran sungai Palayangan-Pangalengan, Jawa Barat, meliputi arung jeram, kayaking, paralayang, sepeda gunung, tracking, canyoning, bananboat dan war games. Tujuannya tentu saja untuk lebih memasyarakatkan produk Boogie.
Segmen pasar Boogie selama ini adalah pelajar/mahasiswa, penggemar ekstrakurikuler kegiatan alam dan perusahaan outbound atau arung jeram. Strategi lain yang ditempuh Boogie Advindo, menerapkan sistem waralaba, yang dimulai di Lampung dan Cianjur, menyusul kemudian di Bekasi.
Alamat : Jl. Talang Raya No. 28, Bogor, Jawa Barat. Telepon (0251) 8371443, 8337403. Faksimil : (0251) 8377560. E-mail : boogie@boogie.co.id. Website : www.Boogieadvindo.com.